Sketching Bersama Penulis Drawing Magic

Berbeda dengan melukis, menggambar biasanya lebih menitik beratkan kepada garis dan komposisi. Namun begitu, baik menggambar maupun menulis tentu saja butuh imajinasi dan teknik yang mumpuni.

Akhir pekan lalu (11-12 April 2015), MediaKita menyelenggarakan workshop “Sketching With Drawing Magic” di beberapa tempat, antara lain Gramedia Matraman, Gramedia Kids Bekasi, Gramedia Depok, dan Gramedia Kids Cibubur.

“Kita sebelumnya juga sukses mengadakan acara yang sama di Islamic Book Fair 2015 lalu,” tutur Yozi Aulia Putri, copy editor MediaKita.

Dalam workshop tersebut, MediaKita menghadirkan dua penulis buku “Drawing Magic: Panduan Menggambar Ilustrasi & Wajah dengan Pensil”, Irfan Abdul Rahman dan Kang Leo. Keduanya merupakan sketcher yang mengelola sekolah khusus menggambar Da Vinci Art School di Tasikmalaya, Jawa Barat. Setiap minggunya, sekolah ini sering mengadakan demo dan menggambar bareng di area Car Free Day di Tasik dengan istilah “Gerakan Senam Pensil”.

Acara di 4 toko buku Gramedia sendiri cukup menarik perhatian karena setiap pengunjung diberi kesempatan untuk digambar wajahnya secara langsung oleh dua sketcher kawakan. “Di IBF lalu, satu buah gambar pengunjung membutuhkan waktu rata-rata 10 menit. Kalau yang sekarang antrean enggak terlalu ramai karena bukan pameran,” kata Yozi saat ditanya waktu yang dibutuhkan Kang Irfan dan Kang Lelo dalam menlukis serta antusias pengunjung.

Tentu saja acara menggambar ini tidak gratis. Pengunjung harus membeli buku “Drawing Magic: Panduan Menggambar Ilustrasi & Wajah dengan Pensil” atau buku karya mereka yang lainnya. Soal posisi menggambar, pengunjung diberi kebebasan. “Mereka mau duduk, bergaya dengan teman atau keluarganya juga boleh,” tambahnya.

Yozi menceritakan sedikit gaya gambar kedua sketcher asal Tasikmalaya tersebut. “Kalau Kang Irfan lebih ke gaya realis, sementara kalau Kang Leo lebih ke gaya karikatur. Pengunjungnya bebas mau milih karakter yang mana buat menggambar.”

Menghadirkan dua sketcher ternyata disambut baik oleh toko buku karena konsepnya terbilang unik. “Selama ini kan toko buku lebih ke acara launching buku dan talkshow biasa. Jadi konsep kita ini sangat menarik mereka,” sambut perempuan yang disapa Ozi ini. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di tim pemasaran yang membantu dan menemaninya selama acara berlangsung.

Ke depannya, acara serupa juga akan digelar di beberapa tempat seperti Tasik dan Bandung. Selain itu, Gramedia Matraman juga meminta lagi menghadirkan Kang Irfan dan Kang Leo untuk mengadakan pameran kecil karya mereka dan workshop sketching seperti yang sudah dilakukan akhir pekan lalu. “Tapi yang terakhir ini belum di-acc sih,” tutup Yozi menutup obrolan.

GusMul: Yang Naksir Sih Banyak, Tapi...

Pertama kalinya, Yogyakarta menyelenggarakan sebuah acara kumpul komunitas dan netizen yaitu Community & Society Summit 2015 (CSS 2015). Acara yang berlangsung satu hari ini berlangsung pada tanggal 7 Maret 2015 di Grand Ballroom Eastparc Hotel Yogyakarta.

Beberapa speaker handal yang memeriahkan acara ini antara lain Christian Sugiono, Petra Jebraw, Babab Dito, Nawa Rie Eda, dan Agus Mulyadi.

“Acaranya lebih ke sharing antar pelaku online: blogger, komunitas, dan beberapa anak muda yang dipandang berpengaruh di Yogyakarta,” terang Irwan Rouf, editor MediaKita yang mengetahui perhelatan ini dari salah satu penulisnya, Agus Mulyadi.

Irwan mengaku sempat berbicara kepada Gus Mul-sapaan akrab Agus Mulyadi, sebelum acara berlangsung. “Waktu itu pihak kita sempat mendukung Gus Mul dengan sebuah kaos yang berisikan promosi bukunya. Tapi karena pihak CSS-nya memberi kaos lebih dulu, akhirnya enggak kepake,” katanya.

Irwan kemudian berpesan kepada Gus Mul bahwa dirinya sekarang penulis, “Dan sebisa mungkin ada pesan yang disampaikan ke audience agar mereka mengetahui buku terbarunya yang diterbitkan MediaKita,” tambahnya.

Gus Mul sendiri sangat senang bisa hadir di acara tersebut. “Perasaan saya jelas senang. Lha, kapan lagi saya bisa jadi speaker di sebuah forum bareng tokoh-tokoh yang punya karya sensasional seperti Cristian Sugiono, Babab Dito, Nawa Rie Eda, dan Petra Jebraw,” ujarnya melalui surat elektronik kepada saungagro.com.

Dalam acara tersebut, Gus Mul berbagi pengalamannya mulai dari jaga warnet, main otak-atik edit foto, ngeblog, trus buat buku. Juga pengalaman tentang berkomunitas. “Soalnya itu acara kontesknya acara komunitas, dan saya memang disuruh untuk berbicara soal komunitas juga,” kata penulis buku “Bergumul Dengan Gus Mul” ini.

Selain menjadi pembicara, Gus Mul juga sempat membagi-bagikan buku kepada audience yang bertanya saat sesinya berlangsung.

Ketika ditanya adakah audience yang naksir selama acara berlangsung, Gus Mul pun menjawab dengan kalem, “Kalau yang naksir kelihatannya sih banyak, cuma yang di-follow-up kan masih simpang siur.”