Workshop Paper Toys Bersama Indonesia Tera

“Hai.....” sapa Tri Prasetyo (TP) dari Redaksi Indonesia Tera pagi itu kepada para peserta. Dengan kompak, para peserta yang terdiri dari guru TK dan PAUD se-Kab. Cilacap pun menjawab “ “Halloo.....”.  Begitu juga sebaliknya, ketika dikatakan ia mengatakan “Halloo....”, maka para peserta pun akan menjawab “Hai.....”.

Begitulah, tepat pukul 09.30 wib pada hari Selasa, 7 April 2015 acara workshop dengan tema “Inovasi Mengajar Kreatif dengan Paper Toys” Gedung Aula Diklat Praja Cilacap Jl. Kemerdekaan Cilacap ini dimulai. Pembukaannya dilakukan secara resmi oleh Kepala Badan Diklat, Arsip, dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap.  Selain itu, hadir pula dalam pembukaan Kepala Dinas Pendidikan Kab. Cilacap. Ketua IGTKI, Ketua HIMPAUDI, dan pelaku Toko Buku di Cilacap.   

Workshop ini merupakan pengembangan event berbasis buku Penerbit Indonesia Tera. Adapun workshop ini menggunakan materi dari 3 buku yang ditulis oleh Hafez Achda di Indonesia Tera, yaitu buku “Paper Toys Kreasi Kertas 3 Dimensi” seri Dinosaurus, Binatang Besar, dan Binatang Malam yang terbit tahun 2012. Biarpun sudah cukup lama buku ini terbit, namun isi atas buku ini memang menarik untuk pengembangan kreatifitas para guru, khususnya untuk pengembangan media pembelajaran dalam mengajar. Event serupa juga pernah diselenggarakan penerbit dan dipraktekkan para guru di Kec. Piyungan, Berbah (Kab.Sleman), Kab. Bantul di DIY dan di Jarimatika Salatiga.

Dalam kesempatan tersebut, Hafez Achda yang dulunya mengenyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa (UNY) menjelaskan secara singkat kepada 200 Guru TK dan PAUD se-Kab. Cilacap seputar dunia kertas, termasuk di dalamnya paper toys yang sudah digelutinya sejak 2007. Penjelasan ini langsung disambut dengan beberapa pertanyaan dari para peserta. Kurang lebih 30 menit paparan sekaligus tanya jawab, selanjutnya para guru inipun langsung diajak praktek untuk merakit Paper Toys ini.

TP selaku pemandu acara kemudian membagikan 1 pola secara acak untuk tiap peserta. Pola yang dibagikan terdiri dari 45 pola binatang yang ada dalam 3 buku tersebut. Setelah pola dibagi, peserta kemudian diharuskan bertemu dengan kawannya sesama kelompok binatang, yaitu binatang besar, binatang malam, dan dinoaurus. Setelah bertemu kelompoknya, lalu menyempit bertemu dengan peserta yang memiliki pola binatang yang sama. Hal ini untuk mempermudah teknis pembuatannya karena kemudian mereka bisa saling berinteraksi satu sama lain jika mengalami kesulitan. Selain itu, juga untuk memudahkan Hafez Achda untuk mendampingi tiap kelompok tersebut.

Setelah para peserta berkelompok, TP baru memperbolehkan Hafez Achda untuk memberikan paparan tentang teknik merakitnya. Simpel, sebab teknik merakitnya hanya butuh teknik melipat, membuat parit (scoring), dan menempel. Perlengkapannya pun cukup sederhana, hanya gunting, penggaris, bolpoint yang tidak ada tintanya (untuk proses scoring agar memudahkan dalam melipat), dan lem (lem kayu putih).   

Kreasi Paper Toys ini merupakan hal baru bagi para peserta. Hal ini diungkapkan mereka ketika diwawancarai TP sembari mereka merakit polanya. Meskipun hal baru, tidak butuh waktu lama peserta untuk bisa menyelesaikan pola binatang buatannya. Ada gajah, sapi, badak, tapejara, tiranosaurus, lele, burung hantu, dan lain sebagainya. Yang menarik, begitu bentuk binatangnya sudah terakit dalam bentuk 3 dimensi, mereka semakin bersemangat untuk merampungkannya. Selain karena memang bentuknya menarik, di kesempatan ini TP juga mengadakan kompetisi kecepatan dan kerapian dalam merakit. Hadiahnya bingkisan buku dari Penerbit Indonesia Tera.

Tidak sampai 1 jam, semua peserta sudah berhasil merampungkan pola binatangnya dan mengumpulkannya di meja depan yang sudah disediakan. Begitu berjajar semua binatangnya, para peserta yang 99% adalah kaum ibu ini langsung bersemangat untuk mengabadikan hasil binatang yang dibuatnya dengan berfoto bersama. Seru, sebab hampir semua beserta  kemudian mengajak mas Hefez dan penerbit untuk ikut serta dalam setiap sesi fotonya.

Tepat pukul 11.45 Wib, penyelenggaran acara yang bekerjasama dengan TB. ECC Cilacap, Kantor Badan Diklat,  Arsip, dan Perpustakaan  Kab. Cilacap, IGTKI Kab. Cilacap, Himpaudi Kab. Cilacap. dan Agromedia cabang Jateng-DIY ini akhirnya berakhir. Semua peserta kemudian memburu buku Paper Toys yang didisplay pihak Toko Buku EEC di pintu masuk sembari membawa binatang hasil buatannya. Buku yang disiapkan pihak Distributor dan Toko Buku EEC sebanyak 150 eksp tersisa 40 eksp saja. Padahal buku dengan harga Rp.37.500 tersebut hanya diberikan diskon 10%.      

Wajah-wajah berseri juga nampak langsung dari para peserta karena di acara ini mereka bisa bermain secara kreatif sekaligus mendapatkan wawasan baru untuk mendukung media pembelajaran mereka kelak. Begitu juga penerbit dan mitra kerjasama yang ada cukup bernafas lega. Sebab penyelenggaraan acara berlangsung dengan sukses sekaligus membuka jaringan baru untuk pengembangan kegiatan ke depan dengan Dinas Pendidikan Kab. Cilacap dan lainnya. Nah, setelah Sleman, Bantul, Salatiga, dan Cilacap, adakah kota kalian yang lain berminat untuk kami singgahi?  

Salam Kreatif!

Serunya Islamic Book Fair 2015

Perhelatan Islamic Book Fair (IBF) 2015 yang digelar pada tanggal 27 Februari sampai 8 Maret 2015 lalu menyisakan kesan tersendiri bagi awak Qultum Media. Menurut Firdaus Agung, redaktur pelaksana Qultum Media, pagelaran IBF tahun ini jauh lebih baik dalam segala hal. “Pokoknya tahun ini lebih oke, mulai dari stan, produk yang kita tawarkan, jumlah pengunjung, acara yang seru, dan tentu saja penjualan yang lebih baik. Itu yang penting,” ujarnya.

Stan Qultum Media memang sengaja dikonsep dengan gaya anak muda. “Karena ada fenomena menarik sekarang, anak-anak muda sedang ramai-ramainya membaca buku islami. Ini terlihat dari jumlah pengunjung kemarin,” tambahnya.

Untuk acara IBF tahun depan, Agung belum memikirkan lebih jauh tentang konsep yang akan diusung Qultum Media. Namun diakuinya, dari acara tahun ini ia sudah bisa melihat segmen pasar terutama antusiasme anak-anak muda.

Ketika ditanya apa yang paling berkesan selama IBF 2015 lalu, Agung menyebut soal lokasi stan yang dekat area panggung utama. “Karena posisi stan kita dekat dengan panggung utama dan dekat dengan pintu keluar. Jadi begitu ada acara di panggung, kerumunan sebagian besar ada di area stan kita. Otomatis mereka juga pasti melihat-lihat apa yang ada di area kita. Itu yang menarik,” tegasnya.

Berikut beberapa foto keseruan acara Islamic Book Fair 2015 Qultum Media: