Terus Menjadi

By Hikmat Kurnia

Bercerita tentang pencapaian masa lalu memang mengasyikan. Kita menjadi romantic dan dipenuhi rasa bangga. Namun terkadang, hal ini bisa membuat kita terjebak pada kesombongan. Romantisme dan kebanggaan memang tidak salah. Namun, saat pencapaian masa lalu menjadikan kita sombong, besar kepala, atau merasa paling hebat, saat itulah sejatinya kita sedang menggali lubang kuburan kita sendiri. Maka, terdengar wajar di telinga saya jika seorang sahabat berkata sambil bercanda, “Janganlah kita membuat perayaan berlebihan dalam memperingati hari jadi kantor kita. Beberapa perusahaan mengalami kemunduran bahkan bangkrut setelah perayaan hari jadinya.”

Perkataan sahabat ini bisa jadi ada benarnya karena mengacu kepada fakta historis. Ada kejadian yang menimpa sebuah perusaahan penerbit yang sedang melejit, yang meroket dalam waktu singkat, tetapi tiba-tiba ambruk setelah perayaan mewah dan meriah di sebuah hotel berbintang. Entah karena perayaannya atau sebab lain, yang pasti nama penerbit itu sekarang tidak kedengaran kabarnya.

Sebagai sebuah peristiwa, perayaan pun bisa dimaknai dan dilihat dari sudut pandang berbeda. Memaknai perayaan sebagai bentuk syukur pada Penguasa Kehidupan ini tentu saja baik dari sisi spiritualitas, apalagi bentuk perayaannya menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Nilai kebaikan dan kemanfaatan terutama ditunjukkan pada perusahaan itu sendiri, karyawan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Perayaan bisa juga dianggap sebagai titik introspeksi, berkaca diri, mengevaluasi, dan membuat rencana ke depan. Sudut pandang inilah yang ingin ditegaskan oleh kami para pegiat Kelompok AgroMedia dalam memaknai 14 tahun penjalanan kami di dunia penerbitan buku.

Perjalanan 14 tahun itu dimulai di sebuah rumah kecil di daerah Bintaro, tepatnya tanggal 1 April 2001. Dengan bantuan satu orang office boy yang merangkap penerima telepon, dan tugas macam-macam, bendera AgroMedia sebagai penerbit buku mulai dikibarkan. Dan tanggal itu kini dimaknai sebagai hari jadi Kelompok AgroMedia.

Bermula dari satu orang office boy, kini ada seribu lebih karyawan yang bergabung dalam Kelompok AgroMedia. Bermula dari 3 judul buku, kini telah ada ribuan buku yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dalam Kelompok AgroMedia. Bermula dari satu rumah kecil, kini AgroMedia beraktivitas di seluruh Indonesia. Bermula dari sebuah penerbit buku, kini ada puluhan penerbit tergabung dalam kelompok yang bermarkas di Jalan Haji Montong ini. Bermula dari usaha penerbitkan buku, kini kelompok AgroMedia melebarkan sayap bisnisnya sebagai distributor buku, retailer buku, agregator e-book, percetakan, automotif, dan properti.

14 tahun adalah waktu yang pendek bagi sebuah entitas bisnis. Derajat keberhasilannya masih perlu diuji oleh waktu. 14 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengevaluasi diri: Apakah jejak kakinya memberi manfaat atau mudhadat? 14 tahun adalah jejak langkah yang memadai untuk membuat rencana, sebab lingkungan usaha pastilah mengalami perubahan yang cukup dahsyat. 14 tahun adalah waktu yang tepat untuk mengisi kembali energi yang telah terkuras, sebab tantatangan di depan sangatlah keras.

Saat berdiri, AgroMedia hanya bermimpi menjadi penerbit pertanian terdepan. Kini impian itu perlu ditata ulang, sebab sudah sangat usang dan tidak relevan lagi. Walaupun namanya Kelompok AgroMedia dan berkonotasi penerbit buku pertanian, sejatinya entitas penerbit yang tergabung dalam kelompok AgroMedia menerbitkan hampir semua jenis buku. Novel, buku masakan, pendukung pelajaran, buku agama Islam, komputer, dan bidang-bidang lain menjadi bidang garapannya. Nama GagasMedia, Bukune, Kawan Pustaka, WahyuMedia, QultumMedia, dan belasan lagi nama penerbit adalah nama-nama penerbit yang tergabung dalam kelompok AgroMedia.

Saat AgroMedia berdiri 14 tahun lalu dunia penerbitan buku belumlah serumit sekarang ini. Tingkat persaingan masih bisa terprediksi. Kekuatan dan kelemahan pesaing masihlah bisa diukur. Namun, saat internet telah menjadi sarana produksi, pemasaran, dan promosi, tingkat persaingan tidak lagi bersifat horizontal. Persaingan dalam dunia perbukuan tidak lagi antarpenerbit, tetapi sudah sangat melebar. Skala bisnis pun tidak lagi menjadi penentu keberhasilan. Kekuatan penerbit tidak lagi bertumpu pada besaran skala usaha, tetapi pada kecepatan dan ketepatan mengantisipasi perubahan selera konsumen.

14 tahun lalu, dunia perbukuan masih dimaknai sebagai penghasil buku cetak, yaitu buku yang terdiri dari lembaran kertas. Kini pengertian buku pun perlu ditata ulang dengan kemunculan e-book sebagai buku digital yang lebih praktis. 14 tahun lalu, pengertian orang cerdas adalah orang yang mampu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Itulah alasannya orang mencari buku ke toko buku, perpustakaan, atau tempat lainnya. Kini, saat informasi begitu melimpah dan terdistribusikan lewat komputer jinjing, tablet, smartphone, atau gawai lainnya. Pengertian orang cerdas pun menjadi berubah. Orang cerdas dimengerti sebagai orang yang mampu menyeleksi informasi dengan akurat, benar, dan dapat dipercaya. Sebab, terlalu banyak informasi yang hoax, fitnah, dan sekadar sampah digital.

Bisnis boleh saja berubah, sebab hakikat bisnis adalah ketidakpastian. Namun, apa pun yang terjadi dengan dunia perbukuan, baik menyangkut perubahan persaingan, perubahan teknologi, perubahan lingkungan usaha, ataupun perubahan wujud buku, AgroMedia harus terus kokoh berdiri sebagai entitas bisnis. Seperti sebuah pepatah “Bisnis ini bukanlah sekadar menunggu hujan reda dan berlalu, tetapi bagaimana belajar menari di tengah hujan”.

Dengan posisi itulah sejatinya perjalanan 14 tahun AgroMedia dapat dimaknai dan diberi sudut pandang yang memadai. “Terus Menjadi” adalah upaya memberi penyadaran bagai para pegiat AgroMedia untuk terus berkarya dengan lebih semangat, lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih berderajat. Bisa jadi para pegiat AgroMedia bisa belajar banyak dari perjalanan 14 tahun untuk “terus menjadi”. Semoga AgroMedia mampu menjadi sawah dan ladang bagi para pemangku kepentingan: selalu berkarya dengan cara yang baik, selalu menghasilkan yang bermanfaat, dan kiprahnya selalu membawa kebajikan.

14 tahun AgroMedia terus menjadi!

Kejutan kue ulang tahun dari teman-teman Agromedia Samarinda
saat berkunjung ke Samarinda Book Fair 2015.

 

 

Hijrah Story di Indonesian Fashion Week 2015

Perhelatan Indonesia Fashion Week 2015 sukses menyita perhatian para pecinta fashion di Indonesia. Acara yang digelar di Jakarta Convention Centre (JCC) 26 Februari – 1 Maret 2015 selama 4 hari ini berhasil mengumpulkan 665 brand dan 32 fashion show.  Salah satu desainer muslim Indonesia, Irna Mutiara, tidak ketinggalan berpartisipasi memamerkan rancangannya di pekan mode yang cukup bergengsi ini. Bahkan, Irna menggelar 2 kali fashion show dengan tema Miracle of the Sun menggandeng siswi SMK NU Banat Kudus yang bekerja sama dengan Djarum Foundation dan fashion show desain baju pengantin melalui brand Irna La Perle yang mengusung tema Andalucia Belleza.

Dalam ajang berkumpulnya para fashionista ini pula Irna Mutiara, merilis buku Hijrah Story. Buku yang digarapnya selama kurang lebih satu tahun ini bercerita tentang perjalanan hijrahnya mulai dari sekolah, menikah, kuliah sambil bekerja, pahit manisnya membangun usaha, hingga suksesnya memiliki banyak perusahaan di bawah naungan PT. Trimoda Update. Dan sebagai seorang perancang busana yang kerap kali menciptakan tren busana muslim, justru Irna Mutiara memutuskan berhijrah dengan menggunakan busana syari yang simple dan minim aksesori. Tidak heran, kini trend busana muslim beralih pula menjadi lebih sederhana dan santun. Sebagai seorang desainer, ia merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikan syiar bagaimana cara berbusana muslim yang sesuai ajaran Islam namun tetap fashionable. Penampilannya sekarang tidak lain karena ia ingin menyempurnakan cara berpakaiannya.

Hal tersebut diamini oleh Oki Setiana Dewi yang kala itu hadir sebagai bintang tamu. Sebagai pelanggan setia rancangan Irna Mutiara, bahkan Oki sudah lebih dulu berhijrah dan ia mengaku merasa lebih nyaman dan praktis mengenakannya. “Setelah nama saya mulai dikenal, banyak penggemar menganggap gaya busana saya kuno dan kampungan,” ujarnya. Namun, dengan berpakaian lebih tertutup kini malah banyak yang mengikuti jejaknya. Dalam kesempatan itu pula Oki mengaku kagum kepada sosok Irna Mutiara yang berjuang dari nol sampai memiliki nama besar seperti sekarang. Orang yang sukses menurutnya adalah orang yang berjuang melewati lika liku hidup dan tidak didapatkan dengan instan. Hal tersebut yang ia lihat dari seorang Irna Mutiara, terlebih setelah membaca bukunya ia paham mengapa Irna Mutiara berhasil di bidangnya. Hal yang membanggakan, sebagai bentuk rasa syukurnya, setiap tahun Irna Mutiara memberangkatkan karyawannya ke tanah suci. “Sebelum launching ini pun, saya baru 10 hari yang lalu pulang umroh bersama 25 orang karyawan,” tuturnya sambil menitikkan air mata haru.

Acara yang berlangsung di mini stage Indonesia Fashion Week ini berjalan santai selama 1,5 jam dan ditutup dengan penampilan model muslimah yang membawakan baju rancangan Irna Mutiara. Irna Mutiara menjelaskan fashion item apa saja yang wajib dimiliki jika ingin berbusana syar’i. Setelah acara penyerahan dummy buku dari penerbit Kawan Pustaka, dilanjutkan dengan book signing.